Menghalau Hoax


Dalam beberapa hari terakhir, isu hoax kembali menjadi penghias media massa, elektronik, sosial Indonesia. Polisi diberitakan telah berhasil menangkap pelaku yang diduga penyebar hoax atau berita bohong. Menurut polisi, mereka adalah jaringan besar yang beranggotakan ratusan orang dengan beragam peran. Sebuah nama kelompok pun berasosiasi dengan mereka.

Siapapun pelakunya, penyebaran hoax adalah sebuah kejahatan. Penangkapan penyebar hoax, sayangnya, tidak serta merta menghentikan hoax yang sudah menyebar. Karenanya, bagi publik, ada yang lebih penting, yaitu memahami bagaimana hoax menyebar dan strategi menghalaunya. Jawaban keenam pertanyaan berikut, berdasar beragam riset, diharapkan berandil dalam mengedukasi publik.

Pertama, mengapa kita (manusia) menyebar hoax? Riset menunjukkan bahwa banyak keputusan yang kita ambil, seringkali bukan karena rasionalitas individu, tapi berdasar narasi kelompok. Di sini, kredibilitas sumber sangat mempengaruhi interpretasi sosial atas informasi. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa kita adalah pencari informasi yang bias. Mereka mencari informasi yang mendukung pandangan kita dan mengabaikan informasi yang berseberangan. Karenanya, membetulkan informasi yang salah tidak serta merta mengubah kepercayaan orang. Hasilnya adalah kamar gema, ketika informasi senada berulang dan beredar di kalangan tertutup. Di sini, biasanya terjadi eksposur terpilih terhadap informasi yang beredar dan bias konfirmasi karena kecenderungan untuk mencari informasi yang mendukung pemahaman sebelumnya.

Kedua, bagaimana hoax menyebar? Fitur berbagi sosial media merupakan sumber kuat penyebar hoax. Proses berbagi ini dapat dilakukan oleh pegiat media sosial atau bot, program yang ditujukan untuk maksud serupa. Media sosial yang difasilitasi Internet telah menghadirkan kekayaan informasi di satu sisi, memunculkan kemiskinan atensi individu atas informasi di sisi lainnya. Hal ini, sampai tingkat tertentu, akan mencegah pemilahan informasi berdasar kualitas. Informasi berkualitas rendah dan tinggi sama-sama dapat menyebar dengan cepat.

Biasanya, informasi, baik hoax atau fakta, menjadi viral tidak melalui rangkaian pertukaran informasi yang panjang antarpengguna-biasa. Dalam konteks ini, media, pesohor, atau tokoh dengan banyak pengikut dapat menyebar informasi dengan jangkauan luas memperpendek rangkaian.

Ketiga, siapa penyebar hoax? Hoax dapat disebar oleh beragam aktor: individu, organisasi bermotivasi finansial/politis, atau bahkan pemerintah/negara. Kita dapat menjadi penyebar hoax ketika ‘ringan jari’ dalam membagi informasi tanpa verifikasi. Partai politik dan simpatisannya juga tidak kalis dari potensi menjadi pelaku jika menghalalkan semua cara dalam memenangkan kontestasi. Ketika pemerintah memberikan informasi yang menutupi fakta yang ada, tidak sulit menyatakan bahwa mereka juga dalam golongan ini.

Keempat, mengapa kita percaya atau tidak hoax? Setiap dari kita mempunyai pandangan dunia yang berdasar pada konsep, kepercayaan, dan pengalaman, untuk menginterpretasikan dan menilai realitas. Jika hoax yang kita terima sesuai dengan pandangan dunia kita, maka kita akan cenderung percaya dengan hoax tersebut. Persepsi terhadap ancaman yang muncul karena hoax juga mempengaruhi tingkat kepercayaan kita.

Kelima, apa dampak hoax? Beragam dampak hoaks dapat diidentifikasi dengan mudah. Segregasi atau polarisasi sosial adalah salah satunya. Tidak sulit mencari ilustrasi kasus ini di seputar musim pemilihan kepala daerah. Sialnya, polarisasi ini juga terbawa ke dunia nyata.

Dampak buruk lain adalah terbentuknya masyakarat masokhis tuna empati yang cenderung sarkastik dan menikmati penderitaan orang lain. Ujungnya adalah tertutupnya manfaat media sosial. Keenam, apa yang bisa kita lakukan untuk menghalau hoax? Biasakan menjadi manusia yang berpikiran terbuka dan terlatih dalam diskusi yang dilandasi fakta. Pendekatan ilmiah berbasis data tanpa bias diperlukan. Selain itu, suarakan kebenaran dengan lebih lantang. Di sini, publik perlu diedukasi untuk membentuk ëketahanan informasi, bersikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima, tidak menelannya mentah-mentah, dan tidak asal menyebarkannya. Pemahaman dan ketaatan atas nilai-nilai kemanusiaan universal yang dibawa oleh norma agama juga menjadi sangat penting. Ini adalah rem paling pakem.

Tidak ada satupun agama yang mengajarkan umatnya untuk menyebar kebencian dan berperilaku antikedamaian dengan menyebar hoax.Mari, kita bersama usung kedamaian dan kurung kebencian!

(Fathul Wahid, PhD. Dosen Program Magister Informatika Universitas Islam Indonesia. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 3 Maret 2018)

Sekilas tentang Audio Forensik


Audio forensik merupakan salah satu cabang ilmu dari Digital Forensik, Audio forensik sendiri masuk dalam jenis Multimedia Forensik yang terdiri dari Audio, Image dan Video. Subki (2018) menyebutkan bahwa Audio forensik merupakan salah satu ilmu yang mnyandingkan antara ilmu pengetahuan dan metode ilmiah dalam proses analisis rekaman suara untuk membantu dan mendukung pengungkapan suatu tindak kejahatan yang diperlukan dalam proses persidangan. Undang-undang ITE No.19 Tahun 2016 menyebutkan bahwa rekaman suara merupakan salah satu alat bukti digital yang sah dan dapat digunakan sebagai penguat dakwaan. Rekaman suara yang merupakan barang bukti digital sangatlah mudah dan rentan dimanipulasi, baik secara sengaja maupun tidak disengaja.

Audio forensik masih sangat kurang peminatnya, terbukti dari sedikitnya jurnal atau publikasi ilmiah terkait dengan audio forensik. Padahal dalam berbagai kasus yang ditangani oleh pihak berwajib yaitu kepolisian, barang bukti berupa rekaman suara sangat sering ditemukan bahkan rekaman suara itu diperoleh dari proses penyadapan. Lantas bagaimana melakukan verifikasi keaslian barang bukti tersebut?

Salah satu cara untuk memverifikasi keaslian dari barang bukti rekaman suara yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan analisis pitch, formant, graphical distribution dan spectogram Nuh Al Azhar (2011). Dengan standar minimal kata yang di analisis adalah 20 kata, yang disesuaikan dengan standar dari FBI.

Rekaman suara sendiri sangat mudah untuk dilakukan manipulasi, sebagaimana dengan barang bukti digital lainnya, misalnya menggunakan metode merendahkan pitch (low pitch) atau dengan meninggikan pitch (high pitch). Atau menggunakan aplikasi yang banyak tersebar di palystore  yaitu aplikasi voice changer atau aplikasi perubah suara.  Lawlor  dan  Fagan  (1999),  mengatakan  bahwa voice changer merupakan proses modifikasi/merubah suara    laki-laki (male) dengan teknik tertentu sehingga terdengar seperti suara perempuan (female) dan begitu juga sebaliknya.

Untuk penelitian baik publikasi ataupun tesis sangat menarik untuk membahas terkait dengan Audio Forensik ini, walaupun untuk melakukan analisis rekaman suara dibutuhkan kesabaran dan ketelitian yang ekstra agar hasil yang diperoleh maksimal.

Definisi dan Fungsi Komputer Forensik


Sebelumnya kita pernah memabahas sejarah singkat tentang cybercrime, kali ini untuk lebih jauh mengeksplore tentang dunia forensika digital, kita akan sedikit membahas tetang definisi dan fungsi komputer forensik.

1. DEFINISI DAN FUNGSI KOMPUTER FORENSIK
1.1 Definisi Forensik
Secara bahasa Kata forensik berasal dari bahasa Yunani Forensis yang artinya debat atau perdebatan. Sedangkan menurut istilah forensik ialah salah satu bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu menegakkan proses keadilan melalui proses penerapan ilmu atau sains.

1.2 Definisi komputer forensik
Komputer forensik adalah penyelidikan dan analisis komputer untuk menentukan potensi bukti legal Bertahun-tahun yang lalu, kebanyakan bukti dikumpulkan pada kertas. Saat ini, kebanyakan bukti bertempat pada komputer, membuatnya lebih rapuh, karena sifat alaminya Data elektronik bisa muncul dalam bentuk dokumen, informasi keuangan, e-mail, job schedule, log, atau transkripsi voice-mail. (Tawarruq, Usaha, & Syariah, 2015)⁠

Komputer forensik (kadang dikenal sebagai ilmu komputer forensik) adalah cabang dari ilmu forensik digital yang berkaitan dengan bukti yang ditemukan di komputer dan media penyimpanan digital. Tujuan dari komputer forensik adalah untuk memeriksa media digital dengan tujuan mengidentifikasi, melestarikan, memulihkan, menganalisis dan menyajikan fakta dan opini tentang informasi digital.

Meskipun paling sering dikaitkan dengan penyelidikan dari berbagai kejahatan komputer, komputer forensik juga dapat digunakan dalam proses sipil. Disiplin ilmu yang melibatkan teknik yang sama dan prinsip-prinsip untuk pemulihan data, tetapi dengan pedoman tambahan dan praktek yang dirancang untuk membuat hukum jejak audit.

Bukti dari investigasi forensik komputer biasanya tunduk pada pedoman dan praktik dari bukti digital lain yang sama. Ini telah digunakan dalam sejumlah kasus besar dan diterima secara luas di sistem pengadilan AS dan Eropa

Beberapa definisi komputer forensik menurut para ahli:
Menurut Dr. HB Wolfre, definisi dari forensik komputer adalah sebagai berikut: “A methodological series of techniques and procedures for gathering evidence, from computing equipment and various storage devices and digital media, that can be presented in a court of law in a coherent and meaningful format.” (Indrajit, 2011)⁠

Definisi sederhana “Penggunaan sekumpulan prosedur untuk melakukan pengujian secara menyeluruh suatu sistem komputer dengan mempergunakan software dan tool untuk mengekstrak dan memelihara barang bukti tindakan kriminal”

Menurut Judd Robin, seorang ahli komputer forensik: “Penerapan secara sederhana dari penyelidikan komputer dan teknik analisisnya untuk menentukan bukti-bukti hukum yang mungkin”

New Technologies memperluas definisi Robin dengan: “Komputer forensik berkaitan dengan pemeliharaan, identifikasi, ekstraksi dan dokumentasi dari bukti-bukti komputer yang tersimpan dalam wujud informasi magnetik”.

Dari beberapa definisi di atas, dapat dismpulkan bahwa komputer forensik adalah suatu ilmu untuk menangkap data, memproses dan menginvestigasi barang bukti digital agar dapat digunakan pada proses pengadilan.

Definisi lain adalah prosedur untuk mendapatkan barang bukti dengan tujuan barang bukti tersebut dapat digunakan di pengadilan.

1.3 Fungsi Forensik Komputer
Selaras dengan definisinya, secara prinsip ada tujuan utama dari aktivitas forensik komputer (Indrajit, 2011)⁠, yaitu:

Untuk membantu memulihkan (merecovery), menganalisa, dan mempresentasikan materi/entitas berbasis digital atau elektronik sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan sebagai alat buti yang sah di pengadilan; dan

Untuk mendukung proses identifikasi alat bukti dalam waktu yang relatif cepat, agar dapat diperhitungkan perkiraan potensi dampak yang ditimbulkan akibat perilaku jahat yang dilakukan oleh kriminal terhadap korbannya, sekaligus mengungkapkan alasan dan motivitasi tindakan tersebut sambil mencari pihak-pihak terkait yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dengan perbuatan tidak menyenangkan dimaksud.

Adapun aktivitas forensik komputer biasanya dilakukan dalam dua konteks utama. Pertama adalah konteks terkait dengan pengumpulan dan penyimpanan data berisi seluruh rekaman detail mengenai aktivitas rutin yang dilaksanakan oleh organisasi atau perusahaan tertentu yang melibatkan teknologi informasi dan komunikasi. Dan kedua adalah pengumpulan data yang ditujukan khusus dalam konteks adanya suatu tindakan kejahatan berbasis teknologi.
Kesimpulan

Dari beberapa pengertian di atas, dapat kita tarik benang merah yaitu bahwa Komputer Forensics bisa juga disebut sebagai Digital Forensics merupakan suatu ilmu yang bertujuan membuktikan suatu barang bukti digital bernilai di mata pengadilan dengan menggunakan metode tertentu yang dapat mempertahankan keaslian barang bukti.
________________
REFRENSI
Indrajit, R. E. (2011). Forensik Komputer. Artikel, 1(C), 1–11. Retrieved from http://www.idsirtii.or.id/content/files/IDSIRTII-Artikel-ForensikKomputer.pdf
https://www.academia.edu/7069638/IT_Forensic
http://en.wikipedia.org/wiki/Computer_forensics
http://www.seputarpengetahuan.com/2014/11/komputer-forensik-pengertian-dan-tujuan.html

Tips terhindar dari kejahatan cyber / Cybercrime

Sebenarnya kejahatan cyber tidak jauh berbeda dengan kejahatan tradisional, keduanya sama sama ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat dan mudah. Namun untuk cybercrime dapat diatasi ada beberapa cara yang cukup efektif dan biaya yang relatif murah, untuk menghindari kejahatan cyber kita cukup berbekal akal sehat saja dengan begitu banyak kejahatan cyber dapat dihindari. Mirip sekali dengan mengamankan rumah seperti (memasang lampu, mengunci, membuat alaram bila perlu) maka akan semakin sulit bagi pelaku cybercrime untuk melakukan kejahatannya.

Berikut tips dasar yang bisa digunakan untuk menghindari kejahatan cyber :

1. Simpan komputer anda ditempat yang aman. 
Biasanya seorang pengguna komputer sibuk menggunakan antivirus, security atau jenis pengaman komputer agar komputernya aman dari serangan cyber. Namun, menaruh komputernya disembarang tempat. Ya resikonya walaupun menggunakan Antivirus kelas satu di dunia bahkan dijgad raya ini komputer anda akan hilang, di curi orang.

2. Komputer harus tetap dalam keadaan up to date
Karena palaku cybercrime senantiasa akan memanfaatkan kelemahan software anda, dengan melakukan update terhadap software yang anda gunakan/ sistem operasi anda itu mungkin bisa menggagalkan serangan cyber. 

3. Mengkonfigurasi system keamanan
Penting bagi seorang pengguna komputer untuk memperhatikan keamanan yang baik dan nyaman digunakan. Namun, terlalu banyak sistem keamanan yang digunakan juga bisa membuat pengguna tidak dapat mengakses situs web tertentu, maka gunakanlah fitur bantuan keaman.

4. Menggunakan password yang kuat.
Hal yang sepele yang biasa di abaikan oleh pengguna internet ialah penggunaan satu password untuk banyak akun, bahkan untuk semua akun internetnya, sebenarnya tidak masalah, sah sah saja pengguna melakukan hal itu, karena biasanya dengan banyaknya password pengguna mudah lupa. Ada beberapa kriteria password yang kuat yaitu : 

a. Menggunakan gabungan antara alfabet (huruf), numerik (angka) dan symbol.
b. Tidak menggunakan nama, tanggal lahir, tanggal pernikahan ataupun nomer telpon.
5. Gunakan antivirus, dan tetap update antivirus
Usahakan sebagai pengguna komputer agar tetap memperhatikan antivirus yang digunakan, karena antivirus yang tidak pernah di update maka bagaikan singa yang dikandangkan, tidak akan bisa menangkap virus yang beredar.

6. Jangan sebarkan informasi pribadi di internet
Kebaiasaan orang yang kecanduaan media sosial, senantiasa memposting setiap kegiatan yang dia lakukan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, begitu juga biodata pribadinya mualai dari nama, tanggal lahir, jenis kelamin, no ktp, no hp, passport, nama orang tua, nama istri, plat mobil dll. Ini sangat memudahkan seorang penjahat cyber memata matai gerak gerik pengguna komputer. Jadi usahakan data yang anda gunakan tetap terjaga, sukur sukur tidak memberikan data diri lengkap di internet.

7. Aktifkan firewall
Jangan pernah mencoba mematikan firewall anda, firewall ini adalah dinding pertahanan komputer yang terdepan.

8. Matikan komputer
Biasakan mematikan komputer ketika selesai menggunakannya. Dan jangan tinggalkan komputer dalam keadaan menyala apalagi terkoneksi internet. 
Mungkin sekian dulu artikel sederhana ini semoga bisa membantu dan memberikan pencerahan. 
___________________
REFRENSI
 Sumber : National Crime Prevention Council

Masalah yang Dihadapi Komputer Forensik


Berbicara tentang komputer forensik saat ini, berbanding lurus dengan semakin maraknya/majunya teknologi digital, kemajuan ini memang sangat diapresiasi dan bukti kemajuan peradaban manusia. Namun perlu diketahui tidak semua pengguna dari kemajuan teknologi ini adalah orang yang baik, ada juga pengguna yang berniat merugikan pihak lain, sehingga kebutuhan akan seorang ahli/pakar dalam komputer forensik semakin meningkat, terutama dalam membantu pemecahan kasus-kasus kejahatan yang tidak bisa ditangani sendiri oleh pihak kepolisian. Dilain sisi berbagai permasalahan masih dihadapi oleh soerang ahli komputer forensik.

Masalah yang dihadapi komputer forensik dapat dipecah menjadi tiga kategori: teknis, hukum dan administrasi.

1. Masalah teknis
Adapun masalah teknis yang dihadapi oleh seorang komputer forensik adalah sebagai berikut:

Enkripsi - Data terenkripsi tidak mungkin dapat dibuka tanpa kunci atau password yang benar. Pemeriksa harus mempertimbangkan bahwa kunci atau password dapat disimpan di tempat lain di dalam komputer atau di komputer lain yang tersangka telah memiliki akses ke dalamnya. Hal ini juga bisa berada dalam memori volatile komputer (dikenal sebagai RAM) yang biasanya hilang pada saat komputer shut-down.
Kapasitas ruang penyimpanan (Hard drive) - Media penyimpanan semakin lama dapat menyimpan data dalam jumlah yang sangat besar, yang untuk memeriksanya berarti seorang komputer analisis harus memiliki tools pemrosesan yang baik dan kapasitas penyimpanan yang juga besar agar efisien dalam menangani pencarian dan menganalisis data dalam jumlah besar.
Teknologi baru - Computing adalah bidang yang terus menerus berkembang, dengan hardware baru, software dan sistem operasi yang muncul terus-menerus. Tidak ada satupun seorang komputer forensik dapat menjadi ahli pada semua bidang, meskipun mereka mungkin sering diharapkan untuk menganalisis sesuatu yang mereka sebelumnya tidak pernah temui. Dalam rangka untuk mengatasi situasi ini, seorang komputer forensik harus siap dan mampu untuk menguji dan bereksperimen dengan teknologi baru.
Anti-forensik - Anti-forensik adalah suatu praktek yang mencoba untuk menggagalkan proseses analisis komputer forensik. Ini mungkin termasuk enkripsi, modifikasi file atau file yang disamarkan (kriptograph). Tidak satupun anti-forensik yang dapat menyembunyikan file/menyamarkan file/mengunci file dengan sempurna, pasti memiliki celah yang ditinggalkan.

2. Masalah hukum 
Masalah hukum mungkin akan sangat membingungkan atau dapat mengalihkan perhatian dari temuan seorang komputer forensik. Contoh di sini adalah 'Trojan Defence'. Sebuah Trojan adalah bagian dari kode komputer yang menyamar sebagai sesuatu yang jinak tapi membawa tujuan tersembunyi dan sangat berbahaya. Trojan memiliki banyak kegunaan, dan termasuk (key-log), upload/download file dan instalasi virus. Seorang pengacara mungkin dapat berargumen bahwa tindakan pada komputer tidak dilakukan oleh pengguna tetapi otomatis oleh Trojan tanpa sepengetahuan pengguna. Dalam kasus tersebut, pengacara menentang seorang yang ahli/pakar, disertakan dengan bukti dari seorang komputer forensik yang kompeten, pengacara harus dapat mengabaikan argumen seperti itu.

3. Masalah administrasi
Sedangkan masalah administrasi yang saat ini masih perlu diperbaiki ada beberapa yaitu:

Accepted standards – Ada sejumlah standar dan pedoman dalam komputer forensik, ada beberapa yang tampaknya diterima secara universal. Alasan ini mencakup: Peraturan perundang-undangan tertentu; standar yang ditujukan kepada penegak hukum; tingginya biaya bergabung untuk berpartisipasi pada badan yang profesional.
Fit to practice – Dalam banyak yurisdiksi tidak ada badan terkualifikasi yang memeriksa kompetensi dan integritas seorang pakar komputer forensik yang professional. Sehingga ada saja seorang yang dapat mengaku diri sebagai ahli komputer forensik, sehingga dapat mengakibatkan kualitas pemeriksaan komputer forensik dipertanyakan dan sangat berdampak kepada pandangan negatif dari profesi komputer forensik secara keseluruhan.
_______________ 
REFRENSI
Sumber : Terjemahan Forensic Control

Komputer Forensik Bagi Pemula


Komputer Forensik adalah praktek mengumpulkan, menganalisis dan melaporkan data digital dengan cara yang sesuai dengan ketentuan hukum. Hal ini dapat digunakan dalam mendeteksi dan mencegah kejahatan pada setiap sengketa di mana bukti disimpan secara digital. Komputer forensik mengikuti proses yang sama dengan disiplin ilmu forensik lainnya.

Penggunaan komputer forensik
Komputer mungkin merupakan sarana 'tindak kejahatan', misalnya hacking atau denial of service attacks (DOS) atau mereka mungkin menahan bukti berupa email, log historys, dokumen atau file lainnya yang relevan dengan kejahatan seperti pembunuhan, penculikan, penipuan dan perdagangan narkoba.

Bukan hanya isi email, dokumen dan file lainnya yang mungkin menarik untuk diteliti tetapi juga 'metadata' yang terkait dengan file-file. Komputer forensik dapat mengungkap kapan pertama kali dokumen muncul pada komputer, saat terakhir diedit, ketika terakhir disimpan atau dicetak dan atau tindakan apa saja yang dilakukan kepada file ini. 

Pedoman Seorang Komputer Forensik
Barang bukti yang dapat diterima itu harus dapat digunakan dan tidak merugikan, yang berarti bahwa pada semua tahap dari investigasi forensik barang bukti harus diterima menurut pikiran penyidik.

Banyak pedoman yang dapat digunakan untuk memandu penyidik diantara ini adalah Association of Chief Police Officers Good Practice Guide for Digital Evidence[PDF] Meskipun Panduan ACPO ditujukan untuk penegakan hukum yang berada di inggris, namun prinsip utamanya dapat berlaku untuk semua kegiatan komputer forensik. 

Empat prinsip utama dari panduan ini adalah sebagai berikut: 

Tidak ada tindakan yang dapat mengubah data yang dimiliki pada media komputer atau penyimpanan sehingga dapat digunakan pada proses pengadilan.
Dalam keadaan di mana seseorang merasa perlu untuk mengakses data asli yang ada pada komputer atau media penyimpanan, orang tersebut harus ahli/pakar dalam melakukannya dan mampu memberikan bukti menjelaskan relevan dan implikasi dari tindakan mereka. 
Jejak audit atau catatan lain dari semua proses yang diterapkan harus dibuat dan di dokumentasikan sebagai bukti elektronik.
Orang yang bertanggung jawab pada penyelidikan memiliki tanggung jawab keseluruhan untuk memastikan bahwa hukum dan prinsip-prinsip ini dipatuhi.
Proses Akuisisi
Dalam situasi apa komputer tersangka dibutuhkan oleh seorang komputer forensik ? 

Secara tradisional, seorang komputer forensik akan membuat salinan (copy) informasi dari perangkat yang di selidiki. Melalui salinan inilah seorang komputer forensik bekerja, sehingga bukti asli tidak berubah sama sekali.

Namun, kadang-kadang penyelidikan tidak mungkin dilakukan dalam keadaan komputer mati (off). Hal ini mungkin akan mengakibatkan kerugian keuangan atau yang lainnya bagi pemilik komputer yang bersangkutan. Pemeriksa juga mungkin akan menghindari situasi ini sehingga dapat membuat bukti yang berharga hilang secara permanen. Dalam kedua keadaan ini seorang komputer forensik perlu melakukan 'live acquisition' yang akan program kecil pada komputer tersangka untuk menyalin (atau memperoleh) data ke hard drive .

Dengan menjalankan program seperti itu dan menyalin drive komputer tersangka, pemeriksa akan membuat perubahan dan / atau penambahan pada  komputer yang sebelumnya tidak ada sebelumnya. Namun, bukti yang dihasilkan akan tetap dianggap diterima apabila pemeriksa mampu menunjukkan mengapa tindakan tersebut dianggap perlu, dan semua tindakan tersebut mereka dokumentasikan dan mereka mampu menjelaskan kepada pengadilan konsekuensi dari tindakan mereka.

Tahapan pemeriksaan
Proses pemeriksaan komputer forensik dibagi menjadi enam tahapan, disajikan dalam urutan kronologis seperti berikut: 

Kesiapan 
Kesiapan forensik merupakan tahap penting dan kadang-kadang diabaikan dalam proses pemeriksaan. Seorang komputer forensik harus mampu memberikan pemahaman kepada klien tentang kesiapan sistem; misalnya, pemeriksaan forensik akan memberikan bukti kuat jika fitur audit ini telah telah diaktifkan sebelum terjadinya kejadian apapun.

Untuk pemeriksaan forensik sendiri perlu kesiapan dan pelatihan yang cukup, pengujian rutin serta verifikasi perangkat lunak dan peralatan yang digunakan, pengetahuan tentang undang-undang, dan mampu berurusan dengan isu-isu yang tak terduga.

Evaluasi
Tahap evaluasi meliputi penerimaan instruksi, klarifikasi, analisis risiko yang tidak jelas atau ambigu dan alokasi peran serta sumber daya. 

Koleksi
Jika akuisisi ini dilakukan di tempat bukan di laboratorium komputer forensik, maka tahap ini termasuk dari mengidentifikasi dan mengamankan perangkat yang dapat menyimpan bukti dan mendokumentasikan kejadian. Wawancara atau pertemuan dengan pengguna dapat memeberikan informasi yang relevan dalam pemeriksaan (pengguna akhir komputer, atau orang yang bertanggung jawab dalam penyediaan layanan komputer, seperti administrator IT) biasanya akan dilakukan pada tahap ini.

Tahap koleksi juga melibatkan pelabelan, pemberian nomor dan menyimpan barang bukti.

Analisis
Analisis ini tergantung pada spesifikasi masing-masing pekerjaan. Pemeriksa biasanya melakukan dialog kepada klien selama analisis dan dari dialog ini akan dapat mempersempit ruang penyelidikan. Analisis harus akurat, menyeluruh, berimbang, tercatat, berulang, dan diselesaikan dalam skala waktu yang ditetapkan sesuai sumber daya yang dialokasikan.

Ada segudang alat yang tersedia untuk analisis komputer forensik. Pemeriksaan dapat menggunakan alat apapun yang dirasa nyaman selama itu mendukung. Persyaratan utama dari peralatan komputer forensik adalah bahwa itu tidak mengaapa digunakan, hal itu dimaksudkan untuk memastikan bahwa pemeriksaan telah teruji sebelum proses analisis berlangsung. 

Presentasi
Tahap ini biasanya melibatkan pemeriksa yang melaporkan terstruktur temuan mereka, hal ini juga akan mencakup informasi lain yang pemeriksa anggap relevan dengan penyelidikan.

Laporan tersebut harus ditulis sesuai hasil pemikiran akhir; Pemeriksa juga harus siap untuk berpartisipasi dalam pertemuan atau konferensi via telepon untuk membahas dan menguraikan laporan. 

Ulasan
Seperti dengan tahap kesiapan, tahap Ulasan sering diabaikan. Namun, tahap ulasan yang dimasukkan ke dalam setiap pemeriksaan dapat membantu menghemat biaya dan meningkatkan tingkat kualitas dengan membuat pemeriksaan kedepannya lebih efektif dan efisien

Sebuah tinjauan dari pemeriksaan dibuat sederhana, cepat dan dapat dimulai pada salah satu tahap di atas. Ini mungkin termasuk analisis dasar apa saja yang salah, apa yang baik, dan bagaimana belajar dari hal tersebut agar dapat dimasukkan ke dalam pemeriksaan kedepannya.
 ________________________
REFRENSI
Sumber : Terjemahan Forensic Control